Kamis, 04 Juni 2015

Jurnal Bahasa Indonesia



 FUNGSI BAHASA BAKU INDONESIA

Lailatul Chusna

Universitas Abdurachman Saleh Situbondo
Jalan.PB.Sudirman No.7,Situbondo
Pos-el:lananana728@gmail.com


Abstrak

Kebijaksanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah bahasa dari sejumlah bahasa yang ada dalam suatu negara untuk dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi kenegaraan dari negara tersebut. Kemudian perencanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada pada bahasa yang sudah dipilih untuk menjadi ragam baku atau ragam standar bahasa tersebut.

Kata Kunci: bahasa baku, ragam bahasa, fungsi bahasa


PENDAHULUAN
Proses pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan atau kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya, yang biasa dilakukan terus menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standarlisasi bahasa.
Berbicara tentang bahasa baku (lebih tepat disebut ragam bahasa baku) dan bahasa nonbaku, berarti kita membicarakan variasi dalam bahasa Inggris variety bahasa, karena yang disebut bahasa baku itu adalah salah satu variasi bahasa (dari sekian banyak variasi) yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan di jadikan tolak ukur sebagai bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
Dalam hal kestatusan sering muncul pertanyaan apakah bahasa baku itu sama dengan bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara dan bahasa tinggi (yang ada pada masyarakat yang diglosik). Pertanyaan-pertanyaan yang wajar untuk untuk dinyatakan ini sebenarnya menampakan pencampur adukan konsep dari pihak bertanya.
Penyebutan nama atau pemberian nama terhadap suatu bahasa menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara, dan juga bahasa tinggi adalah penamaan bahasa sebagai langue, sebagai kode secara utuh keseluruhan. Padahal penamaan bahasa baku adalah penamaan terhadap salah satu ragam dari sejumlah ragam ragam yang ada dalam suatu bahasa. Oleh karena itulah, sejak awal sudah perlu dijelaskan bahwa penamaan yang lebih tepat adalah ragam bahasa baku atau bahasa ragam baku, dan bukan bahasa baku saja.
Jadi penamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, atau bahasa persatuan adalah penamaan terhadap keseluruhan bahasa Indonesia sebagai sebuah langue dengan segala macam ragam dan variasinya. Sedangkan bahasa Indonesia baku hanyalah salah satu ragam dari sekian banyak ragam bahasa Indonesia yang ada, yang hanya digunakan dalam situasi resmi kenegaraan. Dalam hal ini yang digunakan dalam situasi resmi kenegaraan adalah memang hanya ragam baku inilah, dan tidak ragam yang lain.
Bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakaianya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya, sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yamg tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku

PEMBAHASAN
Fungsi Bahasa Baku
Selain fungsi penggunaannya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu:
1.      Fungsi pemersatu
Yang dimaksud dengan fungsi pemersatu (the unifying function) adalah kesanggupan bahasa baku untuk menghilangkan perbedaan variasi  dalam masyarakat, dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur, dalam bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialek dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
2.      Fungsi pemisah
Yang dimaksud dengan fungsi pemisah (separatist function) adalah ragam bahasa baku itu dapat memisahkan atau membedakan penggunaan ragam bahasa tersebut untuk situasi yang formal dan yang tidak formal. Para penutur harus bisa menentukan kapan dia harus menggunakan ragam yang baku dan kapan pula yang tidak baku.
3.      Fungsi harga diri
Yang dimaksud dengan fungsi harga diri (prestige function) adalah bahwa pemakai  ragam baku itu akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat di pelajari dari lingkungan keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari. Ragam bahasa baku hanya dapat dicapai melalui pendidikan formal, yang tidak menguasai ragam baku tentu tidak dapat masuk ke dalam situasi-situasi formal, dimana ragam bahsa baku itu harus digunakan.
4.      Fungsi kerangka acuan
Yang di maksud dengan fungsi kerangka acuan (frame of reference function) adalah ragam bahasa baku itu akan dijadikan tolak ukur untuk norma pemakain bahasa yang baik dan benar secara umum.
Keempat fungsi itu akan dapat di lakukan oleh sebuah ragam bahasa baku kalau ragam bahasa baku itu telah memiliki tiga ciri  yang sangat penting, yaitu (1) memiliki ciri kemantapan yang dinamis (2) memiliki ciri kecendekiaan, dan (3) memiliki ciri kerasionalan.
Ketiga ciri ini bukan merupakan sesuatu yang sudah tersedia didalam kode bahasa itu, melainkan harus diusahakan keberadaanya melalui usaha yang terus- menerus yang harus dilakukan dan tidak terlepas dari rangkaian kegiatan perencanaan bahasa.

Pemilihan Ragam Bahasa Baku
Pada umumnya yang layak di anggap baku adalah ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasuk di dalamnya para pejabat negara, para guru, warga media massa, alim ulama dan cendekiawan.
Sebenarnya banyak dasar atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah ragam menjadi ragam bahasa baku.
Dasar atau kritera itu, antara lain (1) otoritas, (2) bahasa penulis-penulis terkenal, (3) demokrasi, (4) logika, dan (5) bahasa orang-orang yang terkemuka dalam masyarakat.
Dasar otoritas maksudnya, penentuan baku atau tidak baku berdasar pada kewenangan orang yang di anggap ahli, atau pada kewenangan buku tata bahasa atau kamus.
Kalau dasar bahasa para penulis terkenal yang di jadikan bahasa baku, maka akan terlihat adanya tiga macam kelemahan.
Pertama, bahwa bahasa itu bukanlah hanya bahasa tulis saja, tetapi ada juga bahasa lisan. Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa penulus-penulis terkenal telah menguasai aturan tata bahasa dengan baik. Ketiga, karena penulis-penulis terkenal itu berbeda pada zaman yang lalu.
Dasar demokrasi maksudnya, untuk menentukan bentuk bahasa yang benar dan tidak benar atau baku dan tidak baku, tentunya kita harus menggunakan data statistik. Setiap bentuk satuan bahasa harus diselidiki, dicatat, lalu dihitung frekuensi penggunaannya. Mana yang terbanyak itulah yang dianggap benar, yang frekuensinya sedikit  tidak dianggap benar.
Dasar logika maksudnya, dalam penentuan baku dan tidak baku digunakan pemikiran logika, bisa diterima akal atau tidak. Tampaknya dasar logika tidak dapat digunakan untuk menentukan kebakuan bahasa, sebab seringkali benar dan tidak benar struktur bahasa tidak sesuai dengan pemikiran logika.
Dasar bahasa orang-orang terkemuka dalam maksudnya, penetuan baku dan tidak bakunya suatu bentuk bahasa didasarkan pada bahasa orang-orang terkemuka seperti pemimpin, wartawan, pengarang, guru, dan sebagianya.
Usaha pembakuan bahasa, sebagai salah satu usaha pembinaan dan pengembangan bahasa, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai sarana, antara lain: pendidikan, industri buku, perpustakaan, administarsi negara, media massa, tenaga, penelitian.

Bahasa Indonesia Baku
Andai kata kita telah memilih salah satu ragam bahasa Indonesia untuk dijadikan ragam baku, dan mengolahnya agar ragam tersebut memiliki ciri kemantapan yang dinamis, memiliki ciri kecendekiaan, dan memiliki ciri kerasionalan, maka tindakan pembakuan itu harus dikenakan kepada semua tataran tingkat bahasa, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik. Tentunya proses pengolahan itu harus dilakukan terus-menerus selama bahasa itu digunakan.
Yang diatur didalam ejaan adalah cara menggunakan huruf, cara penulisan kata dasar, kata ulang, kata gabung, cara penulisan kalimat, dan juga cara penulisan unsur-unsur serapan.
Berikut ini contoh penulisan bentuk kata yang baku dan tidak baku.
Betuk baku               Bentuk tidak baku
administratif             administratip
anggota                     anggauta
apotek                       apotik,apothek
maaf                          ma’af, maap
zaman                        jaman

PENUTUP
Bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakaianya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya, sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yamg tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku.
Ragam bahasa baku memiliki empat fungsi yaitu: fungsi pemersatu, fungsi pemisah, fungsi harga diri, dan funsi kerangka acuan. Dari keempat fungsi itu terdapat tiga ciri yaitu: ciri kemantapan yang dinamis, ciri kecendekiaan, dan ciri kerasionalan.
Proses pemilihan suatu ragam untuk dijadikan ragam bahasa baku mempunyai beberapa dasar atau kriteria yaitu: dasar otoritas, bahasa penulis-penulis terkenal, demokrasi, logika, dan bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik.          Jakarta: Rineka Cipta 
Hikmah. 2011. Fungsi Bahasa Baku Indonesia, (http://tula-tulaliy.blogspot.com/2011/12/artikel-bahasa-baku-indonesia.html), diakses, 7 Januari 2015

Rabu, 03 Juni 2015

Jurnal Bahasa Indonesia



BAHASA INDONESIA vs BAHASA ALAY PARA REMAJA
(Indonesian Language vs Language Alay Teenagers)

Lailatul Chusna

Universitas Abdurachman Saleh Situbondo
Jalan.PB.Sudirman No.7,Situbondo
Pos-el:lananana728@gmail.com


Abstrak

Penulis memilih membahas judul ini bertujuan untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai perkembangan bahasa gaul (alay) yang sudah mulai menggeser keberadaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik. Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan.

Kata Kunci : bahasa Indonesia, bahasa gaul (alay).

Abstract

The writer chose to discuss this title aims to give a view to the reader about the development of slang ( alay ) already started to shift the existence of the Indonesian language as a tool of communication. Speaking the truth will impact on the truth of the information provided. On certain conditions, which is in formal situation the use of the Indonesian language right becomes main priority. The use of language as is often using language raw. Obstacles to be avoided in discharging raw language among other things caused by the symptoms of language as interference, integration, intervening code, over the code and slang who unwittingly often used in official communicatio  .This resulted in the language used to not good. Speaking good who puts on conditions are not officially or in a casual conversation not binding the principle of thelanguage in it. Slang is one of the branch of the Indonesian language as a language to promiscuity .

Keywords: Indonesian language, Slang ( alay )



PENDAHULUAN
Alay adalah singkatan dari anak layangan, alah lebay, anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak Jarpul (Jarang Pulang), tapi yang paling terkenal adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya. Menurut Koentjaraningrat, alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi bangsa Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya.
Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan yang cukup mengganggu masyarakat pada umumnya. Seiring perkembangan zaman, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pada masyarakat terutama pada kalangan remaja secara perlahan mulai tidak tampak. Hal ini terjadi karena munculnya modifikasi bahasa yang sering disebut dengan bahasa alay. Fenomena bahasa alay memang tengah membius para remaja kita saat ini. Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.
Bahasa alay itu sangat berbeda dari bahasa biasanya. Awal mula kemunculan bahasa rumit ini tak lepas dari perkembangan SMS (Short Message Service) atau layanan pesan singkat. Namanya pesan singkat, maka menulisnya jadi serba singkat, agar pesan yang panjang bisa terkirim hanya dengan sekali SMS. Selain itu juga agar tidak terlalu lama mengetik dengan tombol handphone yang terbatas. Awalnya memang hanya serba menyingkat. Kemudian huruf-huruf mulai diganti dengan angka, atau diganti dengan huruf lain yang jika dibaca kurang lebih menghasilkan bunyi yang mirip.
Penggunaan bahasa sandi itu menjadi masalah bila digunakan dalam komunikasi massa karena lambang yang mereka pakai tidak dapat dipahami oleh segenap khayalak media massa atau dipakai dalam komunikasi formal secara tertulis. Pesatnya perkembangan jumlah pengguna bahasa alay menunjukkan semakin akrabnya generasi muda Indonesia dengan dunia teknologi terutama internet.
Keberadaan bahasa alay dianggap kaum muda sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Baik lisan maupun tulisan, bahasa ini dianggap sebagia media berekspresi. Namun, tanpa disadari lama kelamaan bahasa alay bisa mengancam eksistensi  bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan karena semakin beda dengan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar. Munculnya bahasa alay juga menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.
Akan tetapi, munculnya bahasa alay juga merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu linguistik memang dikenal adanya beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa tidak baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang kurang formal.

PEMBAHASAN
Perkembangan teknologi dan budaya asing saat ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Terutama dalam kehidupan serta pergaulan remaja. Dengan semakin majunya teknologi dan ditambah dengan pengaruh budaya asing tersebut, maka akan mengubah sikap, perilaku serta kebiasaan mereka. Hal tersebut tidak hanya mengubah gaya hidup, seperti cara berpakaian, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang (remaja) dalam berinteraksi serta berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini berkaitan dengan penggunaan bahasa.
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1) bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Seiring dengan berkembangnya zaman, maka munculah modifikasi bahasa atau dikenal dengan bahasa alay. Bahasa alay merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas Alay.
Fenomena bahasa alay menjadi menarik, karena tidak semua orang mau menerima bahasa alay ini. Bahasa alay sering digunakan oleh komunitas tersebut dalam SMS, atau status di Facebook dan Twitter. Entah karena banyaknya orang yang memakai tulisan alay sehingga berdampak banyak orang yang merasa terganggu sampai-sampai muncul grup anti alay di Facebook. Menurut Pangabean (2006:17) menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa sandi itu akan menjadi masalah jika digunakan dalam komunikasi massa karena lambang-lambang yang mereka pakai tidak dapat dipahami oleh segenap khalayak, media massa atau dipakai dalam komunikasi formal secara tertulis.
Pada dasarnya ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja, yaitu identitas dan pengakuan. Penulisan bahasa dengan ciri khasnya bisa jadi pembentukan kedua hal di atas. Menurut Lina Meilinawati, pengamat bahasa dari Fakultas Sastra Indonesia Unpad, ada dua hal alasan utama remaja menggunakan bahasa tulis dengan ciri tersendiri (Alay), Pertama, mereka mengukuhkan diri sebagai kelompok sosial tertentu, yaitu remaja. Yang kedua, ini merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi bahasa baku atau kaidah bahasa yang telah mapan. Artinya, remaja merasa menciptakan identitas dari bahasa yang mereka ciptakan sendiri pula.
Remaja sebagai kelompok usia yang sedang mencari identitas diri memiliki kekhasan dalam menggunakan bahasa tulis di facebook. Ada semacam keseragaman gaya yang kemudian menjadi gaya hidup  (lifestyle) mereka. Remaja yang masih labil dan gemar meniru sangat mudah tertular dan memilih menggunakan bahasa ini daripada menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi ada anggapan bahwa bahasa ini adalah bahasa Gaul, sehingga orang yang tidak menggunakannya akan dianggap ketinggalan jaman atau kuno.
Keberadaan bahasa Alay dianggap kaum muda sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Baik lisan maupun tulisan, bahasa ini dianggap sebagai media berekspresi. Namun, tanpa disadari, lama kelamaan bahasa Alay bisa mengancam eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan karena semakin jauh berbeda dengan kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar.
Munculnya bahasa Alay juga merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu linguistik memang dikenal adanya beragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa tidak baku biasanya digunakan dalam acara-acara yang kurang formal. Akan tetapi bahasa Alay merupakan bahasa gaul yang tidak mengindahkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar . Kita ketahui bahwa bahasa Indonesia itu sudah mulai dipenuhi oleh bahasa asing yang mungkin saja dapat merusak. Namun, kita juga harus terbuka dengan hal-hal yang baru tapi tidak mengindahkan tatanan bahasa yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa Alay oleh para remaja ABG (Anak Baru Gede) dimaksudkan untuk menyingkat karakter agar efisien atau agar para orang tua yang kebetulan memergoki mereka ketika tengah ber-SMS atau mencuri kesempatan membuka hape anaknya menjadi pusing sendiri karena tidak mengerti bahasa yang tertulis tersebut. Kalau setiap hari para remaja sudah biasa ber-SMS sampai ratusan kali dengan menggunakan bahasa Alay terus-menerus, tidak mustahil mereka menjadi linglung ketika harus menjawab soal bahasa Indonesia yang mempunyai aturan baku tentang penggunaan huruf besar dan kecil, tanda-tanda baca, dan lain-lain.
Masyarakat memiliki bermacam-macam pendapat dalam menghadapi hal tersebut, ada yang menerima bahasa tersebut ada juga yang merasa terganggu. Bagi mereka yang menerima bahasa Alay beralasan karena mereka menganggap itu merupakan kreativitas. Jadi, biarkan saja kaum muda itu menggunakan bahasa sandi mereka sendiri yang ditujukan kepada komunitas mereka sendiri saja. Sedangkan bagi masyarakat lain yang merasa terganggu dengan bahasa Alay, menganggap bahasa Alay sangat sulit dipahami demikian juga penulisan dengan huruf Alay sangat menyulitkan bagi beberapa orang untuk membacanya.
Dari data yang penulis dapat ciri-ciri bahasa Alay, antara lain: 1. Menggunakan angka untuk menggantikan huruf. Contoh: “t3m4n, b350k k1t4 p3r91 yuuk”, 2. Kapitalisasi yang sangat berantakkan. Contoh:”tEmAn, bEsOk kItA pErGi YuUuK”, 3. Menambahkan “x” atau “z” pada akhiran kata atau mengganti beberapa huruf seperti “s” dengan dua huruf tersebut dan menyelipkan huruf-huruf yang tidak perlu serta merusak EYD atau setidaknya bahasa yang masih bisa dibaca. Mengganti huruf “s” dengan “c” sehingga seperti balita berbicara. Contoh: “nanti Aq xmx kamyu deeech”, “xory ya, becok aQ gx bica ikut”.
Contoh-contoh yang telah disebutkan di atas baru sedikit, ini artinya masih banyak lagi kata-kata yang termaksud di dalamnya. Penggunaan bahasa Alay memiliki dampak yang positif dan negatif. Dampak positif dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreatif. Terlepas dari menganggu atau tidaknya bahasa Alay ini, tidak ada salahnya kita menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul. Asalkan dipakai pada situasi yang tepat, media yang tepat dan komunikasi yang tepat juga.
Sedangkan dampak negatif bagi kelangsungan bahasa Indonesia antara lain : 1. Masyarakat Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku, 2. Masyarakat Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), 3. Masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar, 4. Dulu anak – anak kecil bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sekarang anak kecil lebih menggunakan bahasa Gaul. Misalnya dulu kita memanggil orang tua dengan sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak kecil memanggil ayah atau ibu dengan sebutan bokap atau nyokap, 5. Penulisan bahasa Indonesia menjadi tidak benar. Yang mana pada penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar, hanya huruf awal saja yang diberi huruf kapital, dan tidak ada penggantian huruf menjadi angka dalam sebuah kata ataupun kalimat. Jika hal ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan dikalangan anak-anak. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Negara kita dan juga sebagai identitas bangsa.
Dampak negatif lainnya, bahasa Alay dapat mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata Alay tersebut. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya. Melihat dampak yang cukup mencengangkan ini, diperlukan suatu minimalisir yang dilakukan untuk dampak negatif penggunaan bahasa Alay tersebut yaitu : Yang pertama, sebaiknya guru-guru bahasa Indonesia di sekolah lebih menekankan lagi bagaimana cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut EYD
Yang kedua,  mengurangi kebiasaan mengirim pesan singkat dengan tulisan yang aneh dan terlalu disingkat-singkat. Disamping mudah membacanya akan lebih efisien waktu dan tidak membuat si penerima pesan merasa kebingungan membaca tulisan kita
Yang ketiga, banyak membaca tulisan yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Artinya di dalam buku tersebut terdapat tulisan yang formalitas dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Misalnya wacana, berita, ataupun informasi dalam surat kabar
Yang keempat, sebaiknya kita rajin membaca KBBI. Karena banyak kosa kata bahasa Indonesia yang sudah banyak kita lupakan. Ini adalah salah satu wujud bangga terhadap bahasa kita bahasa Indonesia.
Dengan dibiasakannya diri seseorang untuk menggunakan bahasa Alay, maka dapat menyulitkan dirinya sendiri. Bisa dibuktikan dengan tingkat kelulusan SMA tahun ini. Banyak siswa-siswi SMA yang tidak lulus. Bahkan ada beberapa sekolah yang siswanya tidak lulus semuanya. Penyebab terjadinya di antaranya karena, keengganan mereka untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Mereka lebih senang menggunakan bahasa Alay, karena lebih mudah dan merupakan bahasa yang lagi musim saat ini. Mereka gengsi atau malu jika mereka tidak menggunakan bahasa tersebut.

PENUTUP
Tata bahasa Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa Alay.
Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Atau pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya. Akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Namun dengan demikian keberadaan bahasa Indonesia juga bisa teruji dengan hal-hal yang baru sehingga bisa lebih menguatkan Bahasa Indonesia itu sendiri.
Perkembangan zaman memang tidak dapat kita di bendung, tapi sebagai pengikut yang bijak sepatutnya kita dapat memilah mana yang baik ataupun yang tidak. Agar tidak merugikan kita sendiri ke depannya. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat.
Salah satu kebijakan untuk tetap melestarikan bahasa nasional adalah pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat menjunjung tinggi bahasa Indonesia agar tetap menjadi bahasa yang dapat dibanggakan dan sejajar dengan bahasa-bahasa di seluruh dunia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara kita dan juga sebagai identitas bangsa. Untuk itulah, kita sebagai generasi muda, harus cermat dalam memilih serta mengikuti trend yang ada. Jangan sampai merusak budaya bahasa kita sendiri.
Cintailah bahasa Indonesia !

DAFTAR PUSTAKA
Sofa. 2009. Penggunaan Ragam Bahasa       Gaul Dikalangan Remaja, (online),  [www.penggunaan-ragam-bahasa-gaul-dikalangan-remaja], diakses , 26 Oktober  2009

Pangabean, Maruli. 2006. Bahasa Pengaruh  dan Peranannya. Jakarta: Gramedia.

Santoso, Kusno Budi. 1990. Problematika    Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

Kompas, 5 Mei 2007. ”Fenomena Bahasa     Alay”, hlm 12

Sofiah,I. 2012. Artikel Bahasa Indonesia vs Bahasa Alay, (http://iendahyourlife.blogspot.com/2012/04/artikel-bahasa-indonesia-vs-bahasa-alay.html), diakses, 25 Desember 2014

Tuga,D.N.L. 2014. Artikel Opini Bahasa Indonesia vs Bahasa Alay Para Remaja,(http://novaltuga.blogspot.com/2014/07/artikel-opini-bahasa indonesia-vs.html), diakses, 25 Desember 2014